lelaki berambut biru langit itu mengetukan kakinya ke lantai, agak grogi dikit. apalagi dirinya menjadi perhatikan banyak orang lalu lalang yang melewatinya, karena sudah waktunya pulang.

membuat mata cantiknya lebih awas menatap pintu lift yang ada di depan sana. menunggu seseorang yang dinanti untuk menunjukkan kepalanya. sambil mengeksplor pajangan di dinding yang selalu membuat terpukau.

"ini lobby udah bisa jadi exhibition dadakan kayaknya ... "

"jam setengah delapan ... kalo turun butuh waktu ya mungkin dua menit?" monolognya pelan.

dan benar saja, tepat pada menit lebih kedua, pintu yang memantulkan sosoknya dari jauh terbuka lebar. senyum yang kelewat manis itu terpancarkan di wajahnya. melihat di depan sana seseorang yang ditunggu tengah mengangguk kecil, balasan dari ucapan salam karyawan disana.

matanya sangat datar. sampai akhirnya menunjukkan wajah kaget sedikit yang masih tetep ganteng— karena eksistensi seseorang yang tidak dia duga, nyambut lambaian tangan dan senyum semangat. sangat bertolakbelakang melihat respon markadi yang sangat tenang, cuma ngerutin dahi aja.

"hai ... tumben? udah mau publikasi hubungan?"

pukulan kecil mendarat di lengan kirinya. "apa dah ucapanmu itu kenapa sangat unexpectedly? ugh geraam aku geram!"

yang lucu buru-buru mengangkat kakinya dari sana. yah malu juga sih, abis omongan markadi ada benarnya. bisa jadi santapan para gossiper kantor lelaki ini, tapi daripada gagal karena gak ketemu, lebih baik ia nunggu disana kan?

rencananya engga gagal kok, karena markadi beneran kaget dan jadi tersenyum dibuatnya.