"iya, gue lagi buka email nih. maaf ja tadi gue urus stock di belakang jadi agak kebagi fokusnya."

"iyaaa, ini ditutup langsung gue sikat. maaf yaa."

"hahaha ya minta maaf lah bisa-bisanya telat cek orderan online. udah dulu ya. semangat renjaa."

nana menarik ponselnya, matanya tidak lepas dari layar besar di hadapannya. sampai-sampai tidak sadar jika sudah ada sepasang mata memandangnya penuh puja dari arah pintu masuk tanpa melepas senyuman kecil di bibirnya.

wajah florist itu sangat serius mencatat rentetan keterangan tambahan yang sekiranya penting. sampai tubuhnya terasa tidak tenang seakan ada dua mata yang memantaunya dari jauh.

bener sih.

"DEMI TUHAN. kaget! mark? astaga ... dari kapan? kok aku gak denger suara apa-apa ya ampun, maaf ya."

lelaki yang namanya dipanggil melebarkan senyumnya. kemudian mendekat ke arah set meja kecil di pojok ruangan keberadaan lelaki manis yang tengah memegang dadanya. menyerahkan totebag berisi makanan ringan ke samping lelaki manis itu.

"hm mungkin dari kamu teriak 'ya ampun iya lupa buka email ja, gimana nih, aduh udah soree' sih kayaknya."

nana merengut malu, tapi ikut tertawa karena mark yang menyalin reaksinya tadi. tak ambil pusing, raganya kembali fokus menyiapkan berbagai bunga yang sudah ia hapal di luar kepala.