“Kayak gini misal, aku seneng liat rumah yang nuansa alami kayu lah bagus, tapi pasti ujungnya serumah aku buat ijo karena suka berkebun.”
“Yaudah, begitu aja. Aku mah ikut kan.”
“Ih gak mau. Kita kan rumah tangga berdua, bukan aku sendiri, nanti jadinya rumah aku bukan rumah kita.”
Mark yang mendengar itu mengambil majalah sejenis yang tengah dipegang Nana. Saat ini keduanya tengah bersantai, duduk bersebelahan dengan kaki Nana yang berselonjor di atas paha Markadi, ditemani dengan banyaknya gambar-gambar rumah ideal masa kini.
“Hm, jujur aku sih gak ada keinginan spesifik. Yang aku pengen cuma halamannya luas, banyak pohon, kesebar ventilasi. Mau bentuknya kayak gimana, kamu isiin apa aja, aku tetep nyaman.” Mark tersenyum tangannya sudah dipakai untuk mengelus kepala Nana, sayang.
“Terus penthouse ini mau kamu apain Mas?”
“Gak usah dijual ya. Tetep ada. Buat quality time berdua kalau kita udah punya buntut.”
“Masih lama, udah mikir sampe buntut aja.”
Mark tersenyum, menarik tubuh Nana agar semakin merapat. “Kalo masih lama, berarti kita puas-puasin honeymoon engga sih? Kamu mau kemana? Cuti sebulan oke?”
Nana yang mendengar itu melotot tajam. “Ngaco! Sebulan ngapain coba? Kamu pikir kita berdua gak ada kerjaan yang nungguin apa...”
“Hehehe. Kan ada yang bisa gantiin absennya kita berdua ay.”
“Iya abis itu kamu didepak dari Adiwijaya, bagian tokoku diakuin tiga krucil.”