"mark kamu lagi sibuk? kalau ada yang penting dan mendesak, bilang aja ya?"
yang namanya dipanggil jelas kaget langsung menggeleng heboh, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. salahnya juga sih malah asik bikin thread di twitter, ada-ada aja kelakuan markadi.
"tadi saya habis nulis cerita di twitter. maaf ya, abis kayak ada yang perlu diabadikan gitu."
nana tidak menjawab hanya menggelengkan kepala heran dengan apa kemungkinan nulis cerita yang dimaksud, kemudian kembali sibuk mengecek semua belanjaannya apakah sudah lengkap.
mark disini tugasnya hanya mendorong trolley, juga membayar semuanya tentu aja. ah mungkin tambah melayangkan tatapan lembut ke setiap hal yang dilakukan nana.
tak jarang ia mendapat ceramahan lelaki manis itu karena track makan dia jarang berbau sayuran. nasi padang, ayam, makanan cepat saji, repeat. belum pacaran aja udah begini yah. markadi sih seneng, gausah ditanya lagi.
disinilah keduanya berada. penthouse cukup besar milik mark yang jujur sudah membuat nana menghela napas panjaang sekali sejak menginjakkan kakinya di parkiran basement. setengah hati dia melangkahkan kakinya mengikuti kaki panjang milik mark. bukan, bukan karena batal naksir. tapi karena 'rumah' yang disebut agak diluar ekspektasi.
tidak mengira jika ia akan benar-benar menginjakkan kaki ke tempat tinggal tipe drama yang biasa di tonton.
"na kenapa bengong? ayo masuk."