"dek lo ini gimana sih mana ada baju staff acara begini?" keluh markadi sambil menuntun adiknya membelah lautan manusia. menuju doinya sudah pasti.
"coba lo ngaca deh bang," jawabnya singkat, sibuk sendiri dengan memamerkan pesonanya pada staff maupun penonton acara yang tidak sengaja bertabrakan sepanjang jalan.
"yaa kan gue staff juga bukan, bodoh. lo yang kaga nyambung banget asli. pake jaket gue mau gak? nanti gue ambil di mobil."
tak ada jawaban berarti, dan langkah keduanya berhenti di hadapan lelaki berambut biru langit yang tidak melepaskan senyum manis dari bibirnya.
yaaaa pantes aja si markadi lembeek.
"haloooo! pasti kak nana yaaaah," seru perempuan itu heboh, "kenalan duluu, aku ningsih. tapiii jangan dipanggil gitu yaah. panggil ning, nings, or dua kali jadi ningning its okaay banget."
"— abis nama abang bagus banget ya mark adiwijaya tapi nama aku malah ningsih. kayak ada apa di dunia ini, satu keluarga namanya padat singkat jelas keren eh aku beda sendiri ... tmi banget ya kak?"
"whaaat? namamu tetap keren karena sama-sama adiwijaya hahahaha."
di tengah keramaian jedag jedug suara musik, ucapan heboh perempuan ini tetap terdengar di telinganya. jujur, nana sangat terkejut. *first impression-*nya sangat berbeda jauh, antara mark dan adiknya.
"bang, gue mau ngobrol sama kak nana dulu ya. lo jauh-jauh gih."