Suara lonceng di pintu terdengar. Tidak perlu menoleh lagi, Nana tahu siapa pelakunya.
"Cepetnya ... jam setengah tujuh banget?" heran si manis yang masih juga sibuk menyusun bunga dari tangannya.
"Mau dibantu gak?" tanya Mark.
"Dia kaga tipes ye, gausah dah dibantuin." balas Renja dengan gelengan kepalanya, yang muncul dari balik pintu transparan penghubung taman dengan toko.
Selesainya mengisi keranjang kotak bunga ia memusatkan atensinya kepada mark, lelaki itu sibuk menonton youtube sambil sesekali tersenyum kecil. Visualisasinya sudah berbeda sekali, mungkin karena pakaian santainya.
"Markadi ayoo, maaf nunggu lama ya."
Mark menegakkan tubuhnya, tersenyum. Tangan kirinya tancap gas langsung meraih gandengannya. "Kan aku juga yang datengnya kecepetan ya. Lagipula nunggu bertahun-tahun lagi masih bakal tetep ditungguin kok."
"Gue barusan denger apa Tuhan... gandengan bisa, cipika cipiki bisa, tapi memperjelas status gak bisa." Siapa lagi kalau bukan protesan renjana.
"Oke udah semua yaa. Gak ada yang mau kamu beli lagi kan?" tanya Markadi lagi memastikan kepuasan si manis dengan belanjaan mereka.