Akhirnya setelah perang telepati, Mark gabung bermalam bersama keluarga kecil Nana.
Niat awalnya ia akan pulang malam hari ini, karena Nana hanya izin kepada tiga sobatnya untuk pergi sehari perjalanan. Dan tampaknya harus ia perpanjang karena ulah Mark.
Semalam keluarganya lebih asik bercengkrama dengan Mark, padahal inceran utama diawal adalah Nana. Tetapi memang daya tarik lelaki itu sangat kuat. Nana sih tidak ambil pusing, memantau mereka dari ujung ruangan lebih menyenangkan dan cukup menghiburnya.
Karena sepertinya memang tujuan Mark itu membiasakan diri dengan keluarga Nana.
“Akur tuh, pacarmu sama ayahmu.”
Nana terkekeh, “Biarin deh, kapan lagi ayah punya temen yang respon pikiran randomnya.”
“Iya... bentar lagi juga balik mereka.”
Benar, tidak lama dari arah luar terdengar suara berbincang yang tampak begitu seru. Pagi ini Mark sudah ikut Ayah untuk jogging, rutinitas yang tidak pernah dilewatkan semenjak pensiun.
Mark menghampiri meja makan dan duduk di sebelah Nana, meraih gelas yang disodorkan untuknya. Anggukan menjadi respon pertanyaan yang dilontarkan padanya, “Capek?”
“Bunda bisa nebak sih apa yang dilakuin Ayahmu. Pasti setiap nemu kenalannya nak Mark dikenalin yah?” Mark tersenyum lebar, “Ketebak banget emang dia tuh.”
Nana ikut terkekeh. Tangannya kembali sibuk memotong sayur di hadapannya. Membuat Markadi ikut menawarkan diri, “Bun ada yang bisa saya bantu gak?”