Getaran yang cukup mengganggu membangunkan lelaki paling manis disana. Matanya menatap kearah catatan kecil di meja nakas yang membuat bibirnya menerbitkan lengkungan indah. Dengan cepat kakinya bergerak menuju jendela kamarnya.
Rutinitas setiap paginya agar suaminya itu terganggu dari tidurnya. Iya, Mark Adiwijaya.
“Yang... bangun. Udah jam tujuh lewaat.” Nana menggoyangkan lengan Markadi, namun sepertinya daya tarik kasur mereka lebih kuat.
“Masih ngantuk, nanti bangunin lagi.”
Nana menghela napas panjang, “Lupa kah? Hari ini kan hari penting,” Mark masih memejamkan mata namun alisnya ikut merespon kebingungan.
Nana kembali mengganggu dengan mencubit pinggang suaminya. “Sebentar lagi acara Jayden, kan dia mau tunangan hari ini. Kamu masa lupa sih sama acara anak sendiri,”
“Ayooo bangun, kalo lokasinya di Jakarta mah gampang deh kamu mau siap-siap sejam sebelum acara masih keburu. Inikan di Bandung ay,” Nana mendekat ke arah Markadi, sambil meniup-niup wajah loyonya, “Jay paling semangat pas kita gono-gini, ayo kamu juga.”
Markadi menatap Nana lama, menghela napas. “Jay pasti ngerti, pengantin baru kayak kita susah bangun pagi. Telat sejam gak apa-apa.”
Mendengar itu Nana melotot dibuatnya, menarik lagi bahu Markadi yang ingin memunggunginya. Tangannya dipakai untuk melebarkan mata ngantuk suaminya.
“Ngaco! Ada pengantin baru itu satu dua bulan abis nikah, kita udah mau satu tahun! Bangun ayooo sayaaaang.”