Perjalanan yang tidak memakan waktu, akhirnya sampai. Mungkin menurut kebanyakan, pihak yang akan merasa grogi saat ini adalah Mark Adiwijaya, tapi nyatanya berkebalikan.
“Nana ayo napas dulu, semua baik-baik aja.”
“Haha rasanya lucu banget ... masa jadi aku yang nervous sih. Gak adil, harusnya kamu.”
“Aku juga tau, tapi bisa nutup dengan baik.”
Derry dan Reyhan yang hari ini menjadi korlap, sudah bersedia mendampingi Markadi dan Nana dengan bekal protofon. Mereka tidak terlihat, layaknya gerakan bawah tanah, padahal tidak jauh dari keduanya.
“Kamu mau makan berat?”
“Perut aku mules jujur, kayak ada tremek.”
“Yaudah mau langsung aku lamar?” Markadi nyengir.
“Engga. Pelan-pelan ya? Jangan langsung jedaar.”
“Iyaa tenang, ada banyak hal yang mau aku sampaiin juga. Kita bertahap.”
Akhirnya acara dimulai dari Nana yang memilih untuk ngeganjel perutnya dengan sajian makanan ringan. Manis asin asam pahit tersaji di hadapannya, semua kesukaannya. Markadi tidak menyantap, hanya melihat Nana makan ikut membuatnya kenyang.
“Aku kira kamu bawa ke tempat yang fancy.”
“Terus kamu nyesel?”
“Engga. Malah dalam hati kaget campur heran, ini mah berasa dianter kerja sama kamu.”
“Iyaa, sengaja.”