Malik Adiwijaya, nama simpel yang diberikan Markadi untuk anak pertamanya. Laki-laki, dengan penuh penantian lika-liku saat menunggunya hadir. Walau sempat dapat kritikan pedas dari empat bawahannya karena namanya sama aja kayak punya Mark. Tapi Mark gak mau ambil pusing.
Yang dipikirkan bawahannya itu Malik-adi. Sama aja kayak Mark-adi. Tapi perdebatan ditutup dengan ‘biarlah Malik bikin nama panggilan baru’, Markadi itu jadi personal brandingnya sendiri.
Yah tentu saja, Markadi tetap juara.
Hari ini ulang tahun anak mereka, yang ke-5. Pertama kali Nana memutuskan dirayakan, dan juga dia sendiri yang bertanggung jawab. Tentu semangat sekali.
Anaknya berada di tengah, ditemani beberapa teman dari sekolah playground dan juga anak dari beberapa yayasan. Kebayang sekali seberapa ramainya.
Nana memantau dari pinggir, bersama Markadi yang selalu ada di sampingnya. Berada tak jauh dari tempat hadiah tamu undangan.
Yang jadi pemandu acaranya tentu si empat bawahan kesayangan Markadi, tidak perlu menyewa MC lagi mereka sudah dengan mudah berbaur dengan anak-anak dan acara.
Mark yang pertama melihat, memeluk Nana. “Hei kenapa nangis... jangan nangis... nanti kalo Malik liat kamu diketawain.”
Nana mendengar itu malah memeluk Markadi, sambil tersedu-sedu. Dia sedang sangat emosional saat ini. Mark terkekeh sambil terus mengelus pundak Nana, mencium puncak kepalanya, dengan bibir yang tak henti mengucapkan ‘semua baik-baik aja’.
“Aku sedih banget... dulu aku pernah iri sama anak seumuranku yang ulang tahunnya dirayain sama keluarganya. Tapi sekarang... rasanya lapang banget... karena aku bisa ngeganti perasaan itu dengan ngerayain ultah anak aku.”