Benar saja pada hari Jumat, di malam hari, Nana pulang ke rumah kedua orang tuanya. Mendapat sambutan haru apalagi dari dua adik dan satu adik sepupunya yang merindu karena sudah lama tidak berjumpa.

Sepanjang malam, ketiga Adik itu tidak mau lepas. Sampai akhirnya kedua orang tuanya memilih mengundurkan introgasi di hari esok. Padahal mereka sudah kepalang penasaran.

“Kamu tuh beneran udah pacaran sama siapa namanya... Mark-Mark itu kan? Rasanya kayak agak sulit dipercaya ya.”

Nana yang sedang merawat beberapa tanaman cangkok milik Ibunya mengangguk lagi untuk yang kesekian kali, kecintaannya terhadap tanam-menanam memang turun dari Bundanya.

“Wah... Padahal kemarin dia kepanasan ya pas dateng kesini terakhir kali. Banjirrr itu wajahnya. Tapi pantang nyerah juga ya... tetep cinta sama kamu.” Mendengar itu Nana tertawa lagi.

Saat itu sebelum keduanya berpacaran, Markadi ingin menyapa kedua orang tua Nana. Jelas tetap dijabanin olehnya walau tau mereka tidak satu kota, harus pergi ke Bandung untuk bertamu. Namun untuk menuju rumahnya, mereka harus berjalan kaki lagi karena setiap mobil plat luar, tidak diperijinkan masuk di perumahan tertentu.

“Dia tuh bukan kepanasan, tapi mukanya gampang keringetan.”

Kemudian Nana duduk di samping Bundanya, mengeluarkan ponsel dari saku, menunjukkan beberapa foto dirinya dan Mark. Bahkan foto Mark yang menghabiskan waktu di toko dan saat-saat keduanya quality time ikut diperlihat.

“Ini... pas aku lagi di rumah orang tuanya.”

Decak kagum keluar dari mulut Ibunya. “Kok bisa ya dapatnya gak jauh-jauh dari keluarga Adiwijaya,” Wanita paruh baya itu terkekeh geli sendiri, “Tapi denger ceritamu, yowes. Semoga sama yang kali ini, bisa bertahan.”